Breaking News

Thaliban Jamin Tak ada Balas Dendam dan Tak Akan Diskriminasi Perempuan


 KABUL- Seiring dengan ditariknya pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan, kekuasaan pemerintahan di negeri tersebut kini dikuasai oleh para pejuang Thaliban. Kelompok bersenjata ini berhasil merebut kekuasaan di Aghanistan setelan melakukan perjuangan yang lumayan panjang yakni sekitar 20 tahun.


Saat ini Thaliban sudah mulai membenahi pemerintahan dan menstabilkan kondisi keamanan pasca kaburnya presiden Afghanistan yang lama ke luar negeri. Beberapa letupan kecil memang terjadi di sebagian wilayah antara pasukan Thaliban dengan sisa-sisa pendukung pemerintah sebelumnya yang tidak bisa menerima kekalahan mereka. Namun secara umum kondisi Afghanistan bisa dibilang cukup kodusif.



Eksodus ratusan warga Afghanistan yang anti dengan Thalibanpun bisa dibilang berjalan lancar. Apalagi dengan masih adanya bantuan dari pasukan Amerika yang mengawal semuanya itu, sehingga tidak terjadi keributan yang berarti.

Dalam siaran pernya Thaliban sebenarnya telah menjamin bahwa mereka tidak akan melakukan balas dendam kepada mantan lawan politik mereka. Bahkan juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid dalam konfrensi persnya Selasa (17/08/2021) mengatakan bahwa mereka akan memberikan amnesti (pengampunan) terhadap pihak yang sebelumnya menjadi musuh mereka.



Demikian pula kekhawatiran sebagiabn kaum perempuan yang takut akan mendapat kekangan di bawah pemerintahan Thaliban ditepis oleh Mujahid. Dia mengatakan bahwa hak-hak perempuan di Afghanistan akan dihormati dalam kerangka hukum Syariah.

"Kami akan mengizinkan perempuan untuk bekerja dan belajar dalam kerangka hukum Syariah.. Perempuan akan sangat aktif dalam masyarakat kami…Kami ingin meyakinkan komunitas internasional bahwa tidak akan ada diskriminasi." ujar Mujahid sebagaimana dilansir oleh situs berita BBC 18 Agustus 2021 lalu.



Kehadiran kembali Thaliban memimpin Afghanistan tergolong cukup kuat, lantaran beberapa negara Isam dan negara besar dunia memberikan dukungan secara langsung. beberapa negara yang diduga merupakan pendukung utama Thaliban adalah Rusia, Pakistan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Iran, Qatar, dan China.

Dengan banyaknya negara-negara kuat yang mendukung Thaliban diperkirakan kekuasaan kelompok ini di Afghanistan juga akan cukup kokoh. Tinggal bagaimana kedepannya Thaliban bisa mengakomudir kepentingan para pendukungnya dan menjaga kekompakan di intern pemerintahannya agar kekuasaan mereka bisa langgeng.

Sebagaimana ditehui, selama ini Afghanistan merupakan wilayah yang selalu bergejolak baik karena pertarungan kepentingan asing atas hasil bumi mereka maupun  perpecahan politik di kalangan orang Afghanistan sendiri. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi negara dan masyarakat Afghanistan untuk mempertahankan keamanan dan kedamaian di negeri mereka. (*/asya)   



Tidak ada komentar