Header Ads

MUI Samarinda Sarankan Umat Agar Shalat Idul Adha di Rumah Saja






SAMARINDA: Kondisi pandemi covid-19 yang saat ini mengalami peningkatan jumlah korban positif menyebabkan MUI kota Samarinda terpaksa menyampaikan himbauan agar kaum muslimin melaksanakan shalat Idul Adha di rumah saja.





Himbauan ini disampaikan oleh KH. Zaini Na'im selaku ketua MUI kota Samarinda melalui media demi kemaslahatan masyarakat dalam hal ini umat Islam.





Hal ini ujarnya demi mencegah semakin meluasnya penyebaran covid-19 yang belakangan ini justeru semakin meningkat. Apalagi saat ini di Samarinda sudah terjadi banyak transmisi lokal sehingga sudah sulit dideteksi siapa yang terjangkit virus dan siapa yang masih steril.





Menurut Zaini Na'im, jika pada Idul Fitri 1441 H yang lalu saja MUI dan pemerintah menyampaikan himbauan agar kaum muslimin shalat di rumah saja, padahal saat itu orang yang positif covid masih sedikit dan masih berupa kasus impor. Maka tentu di hari raya Idul Adha ini himbauan tetap disampaikan mengingat kondisi yang lebih 'parah' saat ini.





Sebagaimana diberitakan bahwa transmisi lokal telah terjadi fi banyak tempat termasuk kantor pemerintahan dan fasilitas kesehatan. Bahkan di RSUD Abdul Wahab Sjahrani, saat ini sudah terdapat 21 tenaga kesehatan yang positif covid.





"Jika saat korban covid masih sedikit saja, Idul Fitri lalu kita dihimbau untuk melaksanakan shalat hari raya di rumah, apalagi saat ini dimana peningkatan pasien sudah berkali-kali lipat," ujar KH. Zaini Na'im kepada media ini  Kamis malam (30/07/2020).





Menurut ulama yang dikenal tegas ini, berdasar pemberitaan covid-19 sudah bukan lagi merupakan kasus impor namun telah terjadi transmisi lokal yang sangat masip. Sehingga kalau dipandang dari segi kedaruratan jelas saat Idul Adha sekarang ini jauh lebih darurat dari kondisi saat Idul Fitri lalu.





"Nah, kalau Idul Fitri lalu MUI dan pemerintah menghimbau agar pelaksanan shalat hari raya di rumah saja, maka tentunya dalam kondisi Idul Adha sekarang bisa dibilang lebih darurat lagi." lanjut Zaini Na'im.





Kondisi yang cukup mengkhawatirkan ini seolah tidak terlalu terasa di masyarakat umum karena memang ada kebijakan baru dari pemerintah yang tidak lagi mengumumkan jumlah orang yang terpapar covid. Padahal kenyataannya terjadi peningkatan jumlah penderita covid yang sangat besar.





MUI sendiri merupakan lembaga keagamaan yang  selalu berorientasi pada kemaslahatan umat, baik dalam bidang Aqidah, syari'ah maupun muamalah. Oleh karena itu sangat wajar bila himbauan-himbauannya selalu mempertimbangkan keselamatan umat dan masyarakat.





Mengutip pendapat Imam Ghazali, KH. Muhammad Zaini Na'im menjelaskan bahwa Maqoshid Syari'ah atau maksud syari'at (agama) itu ada lima yakni; menjaga agama (hifdz ad-Din), menjaga jiwa (hifdz an Nafs), menjaga akal (hifdz al- Aql), menjaga harta (hifdz al-Mal) dan menjaga keturunan (hifdz an-Nasl).





Terlebih perkara shalat hari raya ini mayoritas ulama menyepakati bahwa hukumnya adalah Sunnah (anjuran) bukan diwajibkan. Sedangkan ibadah wajib saja, sekiranya ada kemuhdaratan yang harus dihindari maka ada keringanan atau dalam agama disebut dengan rukhshah.





Namun demikian Zaini Na'im menegaskan bahwa MUI hanya menghimbau dan bukan memaksa apalagi melakukan penegakan hukum, sehingga jangan sampai ada kesan bahwa MUI melarang orang untuk beribadah. (Asya)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.